monicarasmona.my.id

Keteguhan yang Tak Meninggikan Suara

Contoh esai tentang ibu berjudul Keteguhan yang Tak Meninggikan Suara

Setiap tulisan mempunyai takdirnya sendiri. 

Tulisan ini lahir dari sebuah lomba. Ia mengendap lama setelah mengetahui bahwa jalannya bukan di sana. Kini ia kembali, bukan tanpa alasan. Sebuah rumah memanggilnya untuk menjadi tulisan pertama – setelah berbenah dan tak jadi punah.

Dari sinilah rumah itu memulai wajah barunya. Tidak dari nol, sebab tulisan-tulisan yang ada adalah sejarah. Mereka tetap tinggal, menjadi saksi – perjalanan tak selalu langsung menuju tujuan. Tulisan berikut adalah esai tentang ibu – tentang kesabaran, bahasa diam, dan makna keteguhan yang kerap tidak diucapkan dengan suara.

***

Setelah menjadi seorang ibu dan tetap tinggal dekat dengan Ibu membuatku sadar bahwa apa yang Ibu lalui dulu itu sesuatu yang bisa menguji kekuatan bahu. Ibu tinggal jauh dari keluarga, meyakinkan diri sekuat tenaga bahwa ia mampu menghadapi dunia hanya dengan suami, sang penjaga.

Kakak dan adik Ibu tinggal berdekatan di dekat rumah kakek-nenek. Hanya Ibu yang terpisah karena urusan pekerjaan. Baru kini kusadari di dalam tubuh kecil itu bersemayam kekuatan besar.

Bagiku, Ibu adalah simbol keteguhan dalam kerapuhan, representasi kedigdayaan dalam kelemahan, dan refleksi ketegasan dalam kelembutan.

Tentangnya terkadang menampakkan sesuatu yang bias. Saat aku agak nakal dan membuat Ibu dalam menarik napas, di matanya kulihat amarah dengan jelas, tetapi tangannya lembut membelai, sama sekali tidak keras.

Ibu tidak pernah membentak, tetapi aku tahu jika emosinya tengah berontak. Tanpa lengkingan tinggi, aku serta merta langsung sadar diri. Menyesali apa yang terjadi, lalu berjanji tak kan mengulanginya lagi.

Kini aku sudah menjadi seorang ibu sehingga aku paham betapa sulit untuk menahan bentakan saat semua tidak sesuai harapan. Namun, ibuku mampu dalam keadaan jauh dari keluarga serta menjadi ibu bekerja sekaligus ibu rumah tangga.

Dari Ibu, aku belajar banyak hal. Satu di antaranya adalah perihal kesabaran. Sabar menghadapi suami, sabar menghadapi anak, dan sabar menghadapi segala yang ada di dunia.

Ibu tidak keberatan mengalah agar anak tidak mempunyai luka batin karena teriakan-teriakan yang tidak perlu. Meski ia harus bertarung sengit dengan harga diri dan emosinya.

Aku tidak tahu apakah aku akan bisa seperti Ibu yang tampak lemah dari luar, tetapi kokoh luar biasa di dalam. Namun, selamanya Ibu menjadi standar ibu sempurna di mataku.

Newest Older

Related Posts

Post a Comment