Saat ditanya perihal cita-cita, profesi apa yang kerap menjadi jawaban anak?
Aku yakin kita sepakat bahwa jawabannya adalah astronot dan pilot. Kedua profesi itu terbang melayang menjelajah setiap jengkal ruang imajinasi anak. Namun perlahan, sedikit demi sedikit kakinya mulai menapak di bumi, kesadarannya dihantam realita yang ada.
Aku pribadi memandang hal tersebut sebagai sesuatu yang wajar. Semua ada waktunya dan masa kanak-kanak merupakan era terbaik untuk berimajinasi dan bermimpi. Siapun tidak berhak mematikannya, termasuk orang tua.
Akan tetapi, seminggu yang lalu sesuatu mengusik alam berpikirku. Momen wisuda adik bungsu di universitas terbaik negeri ini sukses mengobrak-abrik batas pengaman yang selama ini aku bentangkan demi melindungi diri dari rasa sesal.
Kami tumbuh di rumah dan pengasuhan yang sama, tetapi mengapa dia begitu berani bermimpi masuk universitas top 1? Sementara aku tak pernah menjadikan kampus itu sebagai impian.
Tentu tidak akan ada yang menjamin bahwa aku pun akan diterima di sana jika mendaftar. Namun, kegagalan tak akan lebih dalam menyakitimu daripada terlempar ke palung sesal karena tidak pernah mencoba.
Tiba-tiba, aku teringat novel yang sama-sama kami baca, Laskar Pelangi. Satu-satunya kawan perempuan Ikal di SD Gantong, Sahara, pernah mempertanyakan batas mimpi. Diceritakan, ada sebuah lomba yang melibatkan semua sekolah dasar di lingkungan mereka. Sebuah kenyataan pahit menyerbu pikiran Sahara.
Ternyata tidak semua anak bebas untuk bermimpi. Keadaan timpang antara yang bersekolah di tempat serba kekurangan dan tempat elit turut membatasi mimpi yang seharusnya tidak membebani anak. Kebebasan berimajinasi yang dianggap pasti melekat pada anak tetap menjadi barang mewah bagi si miskin.
Aku merasa seperti Sahara. Bedanya, akulah yang membuat batas mimpi. Buktinya adik kandung sendiri mampu bermimpi masuk universitas terbaik, lalu mewujudkannya. Sementara aku untuk sekadar menjadikannya mimpi sudah merasa kerdil.
Baru sekarang aku menyadari, kita sendirilah yang memandang kecil diri sendiri, sehingga langsung kalah sebelum bertanding. Tidak ada yang terlalu tinggi, selama usaha dan doa mengiringi. Terkadang, impian mati bukan karena realita, tetapi kita yang tidak mengizinkannya menjadi nyata.
Post a Comment
Post a Comment