monicarasmona.my.id

Tentang Batas Mimpi

6 comments

Saat ditanya perihal cita-cita, profesi apa yang kerap menjadi jawaban anak?

Aku yakin kita sepakat bahwa jawabannya adalah astronot dan pilot. Kedua profesi itu terbang melayang menjelajah setiap jengkal ruang imajinasi anak. Namun perlahan, sedikit demi sedikit kakinya mulai menapak di bumi, kesadarannya dihantam realita yang ada.

Aku pribadi memandang hal tersebut sebagai sesuatu yang wajar. Semua ada waktunya dan masa kanak-kanak merupakan era terbaik untuk berimajinasi dan bermimpi. Siapun tidak berhak mematikannya, termasuk orang tua.

Akan tetapi, seminggu yang lalu sesuatu mengusik alam berpikirku. Momen wisuda adik bungsu di universitas terbaik negeri ini sukses mengobrak-abrik batas pengaman yang selama ini aku bentangkan demi melindungi diri dari rasa sesal.

Kami tumbuh di rumah dan pengasuhan yang sama, tetapi mengapa dia begitu berani bermimpi masuk universitas top 1? Sementara aku tak pernah menjadikan kampus itu sebagai impian.

Tentu tidak akan ada yang menjamin bahwa aku pun akan diterima di sana jika mendaftar. Namun, kegagalan tak akan pernah lebih dalam menyakitimu dibanding terlempar ke palung sesal karena tidak pernah mencoba, kan?

Tiba-tiba, aku teringat novel yang sama-sama kami baca, Laskar Pelangi. Satu-satunya kawan perempuan Ikal di SD Gantong, Sahara, pernah mempertanyakan batas mimpi. Diceritakan, ada sebuah lomba yang melibatkan semua sekolah dasar di lingkungan mereka. Sebuah kenyataan pahit menyerbu pikiran Sahara. 

Ternyata tidak semua anak bebas untuk bermimpi. Keadaan timpang antara yang bersekolah di tempat serba kekurangan dan tempat elite turut membatasi mimpi yang seharusnya tidak membebani anak. Kebebasan berimajinasi yang dianggap pasti melekat pada anak tetap menjadi barang mewah bagi si miskin.

Aku merasa seperti Sahara. Bedanya, akulah yang membuat batas mimpi. Buktinya adik kandung sendiri mampu bermimpi masuk universitas terbaik, lalu mewujudkannya. Sementara aku untuk sekadar menjadikannya mimpi sudah merasa kerdil.

Baru sekarang aku menyadari, kita sendirilah yang memandang kecil diri sendiri, sehingga langsung kalah sebelum bertanding. Tak ada yang terlalu tinggi, selama usaha dan doa mengiringi. Terkadang, impian mati bukan karena realita, tetapi kita yang tidak mengizinkannya menjadi nyata.

Related Posts

6 comments

  1. Relateddd...heuheu

    Tapi tenang.. nggak semua jalan yang gak kita tempuh harus jadi penyesalan. Kadang itu cuma rute yang dari awal emang gak kita lihat sebagai tujuan.

    Ketika memutuskan sesuatu ga selalu pertimbangan berani vs takut, tapi bisa jadi itu adalah prioritas dan kesadaran di fase hidup saat itu.

    Mangaat monaa.. katanya jadi perempuan sulung itu emg ga mudah, kita belajar buat kuat bahkan sebelum sempat belajar bermimpi..

    ReplyDelete
  2. Saya setuju kalau batas mimpi itu seringkali terjadi karena batas yang dilakukan oleh diri sendiri. Namun kita juga tak boleh lupa, bahwa batas itu terjadi tidak serta merta karena diri sendiri. Sehingga kita jadi terlampau menyalahkan diri.

    Sesekali memang ada realita kurang menyenangkan yang tidak bisa kita kendalikan 100 persen, yang tentu saja, ikut berperan dalam menentukan batas mimpi.

    Ada kalanya mimpi tak semua harus diwujudkan, sesekali diingat sebagai penumbuh mimpi² yang lain. 🥰🥰

    ReplyDelete
  3. Tapi tidak apa-apa kok mbak jika kita punya batas mimpi. Memang benar punya mimpi itu sah-sah saja namun terkadang kalau saya nih, berusaha realistis saja dengan mimpi itu. Akhirnya memilih "jalan yang aman" agar cita-cita bisa tercapai juga. Just my opninion (maria tanjung)

    ReplyDelete
  4. Bermimpi besar itu hak setiap orang kok mbak, kadang kita sendiri yang membatasinya tentu saja hal tersebut dipengaruhi banyak hal sih. Namun, jika hanya bermimpi tanpa ada tindakan nyata untuk mewujudkan mimpi juga tak akan terwujud.

    ReplyDelete
  5. Ceritanya relate banget dengan mimpi saya dulu, tapi memang gak kewujud dengan caranya. Kadang ada rasa kecewa dan sesal karena sudah berusaha, ya sudah tak mengapa. Mudah2an saya bisa mewujudkannya dalam impian saya yang lain :)

    ReplyDelete
  6. Setuju banget mbak. Kadang bukan orang lain yang menjatuhkan mimpi kita, tetapi rasa rendah diri yang menyelinap di relung hati yang bikin segalanya jadi beneran cuma mimpi. Dulu di sampul buku ada nasihat: Bermimpilah setinggi bintang di langit. harusnya kita nggak cuma hapal, tapi paham maknanya. Jangan takut bermimpi.

    ReplyDelete

Post a Comment