monicarasmona.my.id

Nobita dan Paman Galak

Nobita dan Paman Galak

Pagi yang hening beranjak mendenging. Celoteh dan langkah anak-anak sekolah dasar memenuhi gang pinggir rumah. Tiba-tiba saja suara anomali membuat kesadaranku sepenuhnya kembali. 

Aku yang sedang menahan kantuk sontak terhenyak. Suara pintu pagar digedor dengan kasar, tetapi suara berikutnya malah kelakar. Aku masih mencoba bersabar, hingga gebrakan itu tiga kali terdengar.

Aku segera beranjak ke luar kamar dan mendapati Ayah bereaksi persis sepertiku. Kami bergegas, ingin segera melihat makhluk-makhluk kecil jail yang berlarian. Ayah berhasil mencegat salah satu pembuat onar dan memarahinya tanpa ampun.

Sesaat dunia berhenti berputar, menyisakan aku yang terseret pada ingatan masa lalu yang menampar. Adegan di depan mataku tak ubahnya seperti kilas balik tontonan di minggu pagi: Doraemon.

Ayah memarahi anak-anak nakal persis Paman Galak yang memarahi Nobita dan teman-teman. Detik-detik masih berjalan pelan. Otakku masih berusaha memahami perasaan yang dibolak-balik dengan telak.

Saat menonton, aku ikut kesal pada Paman Galak sebab kerap mengganggu kegembiraan Nobita. Dia bisa sangat marah hanya karena anak-anak masuk ke halaman rumahnya untuk mengambil bola yang terlempar ke sana.

Bahkan, aku juga deg-degan ketika Nobita memecahkan kaca rumah Paman Galak. Aku berharap Nobita segera kabur, sehingga dia tidak kena marah. Sungguh ironis, sekarang aku perlahan memahami apa yang Paman Galak rasakan.

Aku mempertanyakan, apakah paman itu benar-benar galak? Atau memang Nobitanya saja yang bikin kesal? Ah, mungkin seperti itulah dunia bekerja, kita benar-benar memahami posisi orang lain yang dihakimi saat kita sudah berada di posisinya.

Tidak ada keberpihakan, aku mengerti dunia anak penuh kegembiraan, rasa ingin tahu, dan berisik. Di sisi lain, kini aku memahami orang dewasa butuh keheningan di sela dunia yang penuh himpitan.

Newest Older

Related Posts

Post a Comment