Waktu terus berlalu, tetapi ada yang selamanya menetap di kalbu.
Harapan. Penantian.
Petang. Berpasang-pasang kaki mendatangi tanah lapang. Tua, muda. Laki-laki, perempuan.
Gelak memenuhi udara. Teriakan terbang bersama angin.
Di antara keceriaan, sepasang kaki tertahan. Sorot mata tak lepas pada dua sosok di muka.
Tangan mungil bergerak tak sabaran. Mencari pegangan. Ia bertahan satu kali lagi.
Berhasil. Kakinya kembali mengekori.
Segera, langkah kecilnya bergegas menyusul langkah besar di depan. Sesekali ia ikut tertawa meski tak sepenuhnya mengerti. Ia hanya tahu bahwa ia sedang menunggu giliran.
Ragu-ragu. Memilin baju. Lalu dua kaki memainkan debu.
Detik berdetak. Menit melambat.
Sosok kecil di pangkuan tak jua turun. Entah tangan mana yang enggan melepaskan.
Dekapan itu.
Tawa makin menjauh. Si kecil di belakang berpeluh. Tangannya terbuka, berharap direngkuh. Namun, si langkah besar tak sedikit pun luluh.
Si langkah kecil berhenti. Tak lagi mengikuti.
Post a Comment
Post a Comment