monicarasmona.my.id

Yang Tak Becus

Sebuah fragmen berjudul Yang Tak Becus

Suara-suara itu seperti datang dari kejauhan. Kecil, putus-putus, patah-patah. Padahal sumbernya terlalu dekat untuk tak terlihat.

Ia memilih untuk terpejam. Berharap raganya hilang dan berpindah alam.

Telinganya masih menangkap dua suara yang saling bersahutan, bersama amarah juga lelah. Tak ada yang mau mengalah. Keduanya lebih memilih terus melontarkan kata-kata sampah.

Ia masih terpejam saat suara satu hanya menyisakan isakan. Suara dua tak peduli. Mulutnya masih mengeluarkan bara

Panas. Ganas.

Di titik itu, amukan suara dua tetap tertuju pada suara satu. Namun, dua kata tajam itu menusuknya hingga mata serta-merta terbuka.

Tak becus, katanya.

Dari sisi mana pun, kata-kata itu tak cocok untuk suara satu. Ia tahu, ia merasa racun itu dialamatkan padanya.

Untuk sesaat, ia percaya bahwa dirinya memang seperti yang dituduhkan.

Untuk sesaat saja.

Setelah itu, ia memilih mempercayai dirinya sendiri. Tak selalu benar. Tak selalu berhasil. Namun, selalu berusaha.

Dan untuk malam ini, itu cukup.

Related Posts

Post a Comment