Di antara kebisingan kota, ia menepi ke dunia maya. Layar telepon seluler menahannya lebih lama dari yang ia kira. Video demi video lewat—kening berkerut, lalu senyum tipis di ujung bibir.
Ia berhenti di kolom komentar.
Tawa hampir pecah.
Tentang siapa yang "menang" dari pertempuran panjang itu.
Tentang mereka yang tak pernah disentuh jarum suntik.
Ada jeda yang terasa ringan.
Lalu perlahan, sesuatu melintas.
Bukan dari layar.
Ia teringat pada satu pagi yang tak pernah benar-benar selesai. Ibu selalu menyiapkan kamar itu setiap kali ia pulang.
Seprai bersih, baju tersusun rapi, karpet tanpa debu. Seolah tak ingin ada yang terasa kurang.
Sampai sebuah panggilan datang dan merusak segalanya.
Sejak hari itu, ibu tak pernah lagi menyiapkan kamar itu. Tak ada yang benar-benar kembali seperti semula.
Dan untuk pertama kalinya,
di pagi buta itu,
ia menemukan kamarnya berantakan.
Post a Comment
Post a Comment