monicarasmona.my.id

Yang Tak Becus

Sebuah fragmen berjudul Yang Tak Becus

Suara-suara itu seperti datang dari kejauhan. Kecil, putus-putus, patah-patah. Padahal sumbernya terlalu dekat untuk tak terlihat.

Ia memilih untuk terpejam. Berharap raganya hilang dan berpindah alam.

Telinganya masih menangkap dua suara yang saling bersahutan, bersama amarah juga lelah. Tak ada yang mau mengalah. Keduanya lebih memilih terus melontarkan kata-kata sampah.

Ia masih terpejam saat suara satu hanya menyisakan isakan. Suara dua tak peduli. Mulutnya masih mengeluarkan bara

Panas. Ganas.

Di titik itu, amukan suara dua tetap tertuju pada suara satu. Namun, dua kata tajam itu menusuknya hingga mata serta-merta terbuka.

Tak becus, katanya.

Dari sisi mana pun, kata-kata itu tak cocok untuk suara satu. Ia tahu, ia merasa racun itu dialamatkan padanya.

Untuk sesaat, ia percaya bahwa dirinya memang seperti yang dituduhkan.

Untuk sesaat saja.

Setelah itu, ia memilih memercayai dirinya sendiri. Tak selalu benar. Tak selalu berhasil. Namun, selalu berusaha.

Dan untuk malam ini, itu cukup.

Related Posts

5 comments

  1. Selama masih percaya dengan diri sendiri, menurutku walaupun lama kita tetap bisa berjuang. Kalau kita yg ga percaya dengan diri sendiri..itu yg bahaya..

    ReplyDelete
  2. Jadi termotivasi, tak selalu benar, tak selalu berhasil namun selalu berusaha. Kita memang tidak boleh berhenti dalam berusaha apapun hasilnya. Semangat

    ReplyDelete
  3. Memang hanya diri sendirilah yang bisa menilai apa yang kita lakukan benar atau salah. Meski ada rasa ragu, tetap semangat untuk berusaha lebih baik lagi

    ReplyDelete
  4. Lelah tak berbatas jika harus mendengarkan omongan orang lain apalagi jika itu negatif justru akan membuat kita semakin down, lebih baik berusaha mengenali diri sendiri dan mendengarkan suara hati

    ReplyDelete
  5. Mendengarkan suara dari dalam diri emang yang paling baik. Percaya pada diri sendiri adalah sebuah keputusan tepat.

    ReplyDelete

Post a Comment