Baru kini ia sadari alasan air mata dan rasa panik tak segera datang mencekik.
Detik itu, ia masih berharap seseorang memekik, membangunkannya dari mimpi.
Namun, tak ada adegan seperti itu. Lambat laun, ia harus menerimanya sebagai kenyataan.
Tempat parkir itu tiba-tiba kosong.
Waktu tak pernah menyembuhkan, ia hanya menjadi terbiasa.
Terbiasa kembali tanpa motor yang menjadi bukti hasil keringatnya sendiri.
Ia sempat berada di titik merasa terkhianati dunia.
Kehilangan di depan mata petugas, tak memberi andil apa-apa. Bolak-balik ke sana-kemari hanya demi asuransi. Tak ada harapan lain. Ia tahu motornya tak kan pernah kembali karena memang tak pernah dicari.
Ia makin muak ketika diminta berbagi uang asuransi—ia memilih tak membaginya meski hanya lima puluh ribu.
Sepintas ia tampak kikir, tetapi bukan lima puluh ribu yang menjadi inti. Ia hanya sedang tidak ingin mengalah, setelah sebelumnya kehilangan sesuatu yang paling berharga saat itu—simbol bekerja.
Meski untuk ukuran 2015, lima puluh ribu telah menjadi nominal yang tak terlalu besar. Namun hari itu, ia merasa terlalu banyak hal sudah diambil darinya.
Motor itu.
Rasa aman.
Rasa percaya bahwa ketika kemalangan menimpa, akan ada mereka yang menjalankan tugas sebagaimana mestinya.
Lebih dari sepuluh tahun kemudian, ia masih bisa mengingat tempat itu. Bukan suara mesin motor yang pergi, bukan pula wajah orang yang membawanya. Yang paling ia ingat justru kekosongan setelahnya.
Sebuah ruang yang semula terisi, lalu tiba-tiba tak ada apa-apa.
Dan mungkin memang begitu cara kehilangan bekerja. Ia bisa saja datang dalam senyap, hanya menyisakan ruang kosong, lalu meminta kita belajar tetap hidup di sekitarnya.

Post a Comment
Post a Comment