Waktu terus berlalu, tetapi ada yang selamanya menetap di kalbu.
Harapan. Penantian.
Petang. Berpasang-pasang kaki mendatangi tanah lapang. Tua, muda. Laki-laki, perempuan.
Gelak memenuhi udara. Teriakan terbang bersama angin.
Di antara keceriaan, sepasang kaki tertahan. Sorot mata tak lepas pada dua sosok di muka.
Tangan mungil bergerak tak sabaran. Mencari pegangan. Ia bertahan satu kali lagi.
Berhasil. Kakinya kembali mengekori.
Segera, langkah kecilnya bergegas menyusul langkah besar di depan. Sesekali ia ikut tertawa meski tak sepenuhnya mengerti. Ia hanya tahu bahwa ia sedang menunggu giliran.
Ragu-ragu. Memilin baju. Lalu dua kaki memainkan debu.
Detik berdetak. Menit melambat.
Sosok kecil di pangkuan tak jua turun. Entah tangan mana yang enggan melepaskan.
Dekapan itu.
Tawa makin menjauh. Si kecil di belakang berpeluh. Tangannya terbuka, berharap direngkuh. Namun, si langkah besar tak sedikit pun luluh.
Si langkah kecil berhenti. Tak lagi mengikuti.

Saya masih meraba kemana arah kata kata ini menuju. Apakah ada anak yang bersedih, kecewa lalu hilang harapan karena tak dibimbing oleh orang tuanya. Atau seorang anak masih dalam kecewanya dia tak mendapat perlakuan dan kasih sayang yang sama dari orang tua dibandingkan saudaranya
ReplyDeleteSaya mencoba memahami makna tulisan ini kak. Mungkin bila tidak salah mengartikan, apakah tulisan tentang seorang anak yang ingin dipeluk ayah ibunya tetapi tidak mungkin. Dan dia sedang melihat anak lain yang sedang dipeluk dan bersama-sana dengan orang tuanya.
ReplyDeleteKeren mb, tulisannya bikin orang yang baca jadi berpikir sesuai imajinasinya. Aku mikirnya sama dengan mb Wahyu. Ada anak kecil (mungkin anak jalanan) atau kucing ya? hehe... dia yang rindu pelukan orang tuanya, saat melihat anak lain sedang digendong untuk nonton suatu acara. Mengikuti langkah orang yg gendong berharap gantian dapat gendongan, tapi tidak sesuai espektasinya.
ReplyDeleteSama.. Sayaa juga berulang membaca untuk memahami ceritanya. Tapi memang hanya bisa menduga yaa, yang tahu persis ya mbak Monica selalu penulisnya hehehe. Tapi aku sedih gitu mbak bacanya... Huhuhuhu
ReplyDeleteapakah ini berkisah tentang seorang anak yang merindukan dekapan orang tuanya. Namun pemkilik dekapan yang dirindukan jungstru mengabaikan dan melupakannya
ReplyDelete